Interpretasi Data Anomali Gravitasi untuk Identifikasi Endapan Aluvium di Kuala Gigieng, Aceh Besar

Mutiara Qalbi Pebrian, Marwan, Nazli Ismail

Sari


Abstrak – Aceh Besar dan Kota Banda Aceh merupakan kawasan pesisir yang dipengaruhi oleh proses sedimentasi. Kawasan ini didominasi oleh daratan berupa delta akibat aktivitas Sungai Krueng Aceh. Proses sedimentasi dapat dikaji menggunakan metode gravitasi berdasarkan distribusi percepatan gravitasi bawah permukaan.  Pengukuran data gravitasi menggunakan alat Gravitimeter Scintrex CG-5. Jumlah titik pengukuran adalah 120 dan luas area pengukuran adalah 1858 × 725 m2.. Terdapat beberapa koreksi dalam pengolahan data gravitasi, seperti koreksi drift, pasang surut, lintang, koreksi udara bebas, koreksi bouguer dan koreksi medan. Koreksi-koreksi ini dilakukan untuk mendapatkan Anomali Bouguer Lengkap. Data anomali Bouger lengkap tersebut dipisahkan antara efek lokal dan regional. Profil nilai Anomali residual digunakan untuk pemodelan ke depan menggunakan Software Grav2Dc.  Model 2D menunjukkan struktur bawah permukaan daerah penelitian terdiri dari 3 lapisan. Lapisan pertama diinterpretasikan sebagai lapisan aluvium 2 jenis pengendapan yaitu batuan aluvium pasiran (ρ = 1,66 gr/cm3) dan batu lempung (ρ = 2,07 gr/cm3) yang berada pada kedalaman 0-350 meter. Lapisan kedua diinterpretasikan sebagai batupasir (ρ = 2,11 gr/cm3). Lapisan ketiga diinterpretasikan sebagai batupasir tufaan (ρ = 2.18 gr/cm3) sebagai lapisan  paling tua pada kedalaman 375 meter. Urutan pengendapan dimulai dari batupasir, batu lempung dan aluvium pasiran, kemudian terjadi pengulangan pengendapan antara aluvium pasiran dan batu lempung disebabkan oleh erosi pantai di atas permukaan.

Kata kunci: metode gayaberat, anomali Bouger lengkap, Grav2Dc, endapan aluvium, Kuala Gigieng

 


Teks Lengkap:

PDF

Referensi


S.A.Schumm, To Interpret the Earth: ten ways to be wrong. Cambridge University Press. United Kingdom (1991).

E. Meilanda, Past, Present and Future Morphological Development of A Tsunami-Affected Coast. Belanda: Gildeprint, Enschede, the Netherlands. (2009).

D. Ploethner dan B Siemon,. 2006, Hydrological reconnaissance in the Province Nanggroe Aceh Darussalam Northern Sumatra, Indonesia survey data area: Banda Aceh/Aceh Besar 2005 Report BGR Project, HELP ACEH, Helicopter Project Aceh, C1, (2006) 1-33.

J. D.Bennet, C.D. McBridge, N. R. Cameron, A. Djunudin, S.A. Ghazali, D. H. Jeffery, W. Kartawa, W. Keats, N.M.S Rock , S.J. Thomson, dan R.Whamdoyo, Peta Geologi Lembar Banda Aceh, Sumatera Skala 1:250.000. Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, Bandung (1981).

J.S. Pethick, An Introduction to Coastal Geomorphology. Arnold. London (1984).

K. D. Sieh dan Natawidjaja, Neotectonics of the Sumatran fault, Indonesia. Journal of Geophysical Research 105 (2000) 28295-28326.

S.Purnawan, I. Setiawan, Marwan, Studi sebaran sedimen berdasarkan ukuran butir di perairan Kuala Gigieng, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh, Depik, vol. 1. No. 1 (2012) 31 – 36.

O. Oktariadi & R. Suhendar, Panduan Wisata Bumi Warisan Geologi Sumatera. Pusat SumberDaya Air Tanah dan Geologi Lingkungan. Bandung (2016).

W. M.Telford , L. P. Geldart, R. E. Sherrif, Applied Geophysics. Cambridge : Cambridge University Press (1990).

A.G. Plint, N. E.Eyles, C.H. Eyles, dan R.G. Walker, Control on Sea Level Change. In: R.G. Walker and N.P. Jones, (eds.), Facies modelresponse to sea level change. Geological Association of Canada (1992) 15-25.




DOI: https://doi.org/10.35895/rf.v3i1.119

Refbacks

  • Saat ini tidak ada refbacks.


Terindeks:

  

 

Bekerjasama dengan: